Entries from May 2007
Praktek Appreciative Inquiry di Heathside School
May 30, 2007 · Leave a Comment
Categories: Video Inspiratif
Tony Robbins: Life coach; expert in leadership psychology
May 30, 2007 · Leave a Comment
Tony Robbins makes it his business to know why we do the things we do. The pioneering life coach has spoken to millions of people through his best-selling books and three-day seminars.
Why you should listen to him:
Tony Robbins might have one the world’s most famous smiles; his beaming confidence has helped sell his best-selling line of self-help books, and fill even his 10,000-seat seminars. What’s less known about the iconic motivational speaker is the range and stature of his personal clients. From CEOs to heads of state to Olympic athletes, a wide swath of high-performing professionals (who are already plenty motivated, thank you very much) look to him for help reaching their full potential.
Robbins’ expertise in leadership psychology is what brought him to TED, where his spontaneous on-stage interaction with Al Gore created an unforgettable TED moment. It also perfectly demonstrated Robbins’ direct — even confrontational — approach, which calls on his listeners to look within themselves, and find the inner blocks that prevent them from finding fulfillment and success. Some of his techniques — firewalking, for example — are magnets for criticism, but his underlying message is unassailable: We all have the ability to make a positive impact on the world, and it’s up to us, as individuals, to overcome our fears and foibles to reach that potential.
Robbins has won many accolades for his work — including his memorable performance in the Jack Black comedy Shallow Hal. (It was a small but vital role.) His Anthony Robbins Foundation works with the homeless, elderly and inner-city youth, and feeds more than 2 million people annually through its International Basket Brigade.
“What Tony delivers is an ever crescendoing call-and-response oratory that often gives the proceedings a teetering, Pentecostal kind of energy. “
GQ
From: http://www.ted.com/index.php/talks/view/id/96
Categories: Video Inspiratif
Inspirational Speak Dr. David Cooperrider
May 29, 2007 · Leave a Comment
Categories: Video Inspiratif
SOAR! Menuju Living Company
May 23, 2007 · 1 Comment
Rata-rata usia harapan hidup (UHH) penduduk Indonesia saat ini terendah di ASEAN antara lain….Demikian diungkapkan Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) Azrul Azwar. “UHH RI 65 tahun, sedang Brunei (76), Singapura (77), Malaysia (72), Thailand (72), Filipina (69) dan Vietnam (68),” katanya, usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta (http://situs.kesrepro.info/info/feb/2003/info01.htm).
Sungguh memprihatinkan nasib orang Indonesia. Bahkan dibandingkan dengan Vietnampun, warga kita kalah beruntung. Bicara soal keprihatinan, tunggu dulu. Ada data menarik tentang usia harapan hidup organisasi bisnis. Tebaklah sekenanya! Kira-kira berapa usia harapan hidup organisasi bisnis? Coba tebaklah sekenanya!
Saya kutip data dari buku The Living Company (Arie de Geus, 1997) :
- Average life expectancy of all firms, regardless of size, measured in Japan and much of Europe, is only 12.5 years.
- The average life span of a multinational organization – Fortune 500 or equivalent – is around 45 years.
- One third of the companies listed in the Fortune 500 in 1970 for example, had disappeared by 1983 – acquired, merged or broken to pieces.
Masih tetap prihatin dengan nasib orang Indonesia? Mungkin sudah seharusnya kita prihatin. Tetapi juga sudah seharusnya kita prihatin dengan usia harapan hidup perusahaan kita. Bayangkan, usia harapan hidup perusahaan di Eropa dan Jepang saja hanya 12,5 tahun. Lalu bagaimana dengan perusahaan Indonesia?
Usia harapan hidup sebagaimana dipaparkan diatas mungkin saja wajar apabila kita melihat bahwa organisasi bisnis masih mempunyai usia relatif singkat dalam peradaban manusia, baru muncul sekitar 500 tahun. Selama rentang waktu itu, banyak organisasi bisnis lahir, tumbuh, berkembang dan juga mati. Bandingkan dengan kemunculan organisasi sosial-budaya maupun politik.
***
Apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh sebuah perusahaan? Apa arti keberadaan sebuah perusahaan, bagi para anggotanya, bagi masyarakat? Tujuan-tujuan apa yang membuat sebuah perusahaan menjadi begitu penting?
Sebagai organisasi bisnis, wajar apabila sebagian besar kita menjawab: shared profit, omzet atau ROI. Wajar pula bila yang lain menjawab: kesejahteraan yang diberikan kepada kita. Tentunya ada keinginan semua itu didapatkan secara berkelanjutan, seumur hidup, bahkan sampai anak cucu kita. Air akan tetap ada ketika sumber airnya juga masih ada. Apapun, perusahaan kita harus hidup, bukan hanya bertahan hidup, juga tumbuh dan berkembang layaknya mahluk hidup. Sebuah living company.
Bagaimana menciptakan living company? Sebagaimana kata orang bijak, adillah sejak dalam hatimu. Living company dimulai dari intensi awal kita yang terwujud dalam aktivitas perencanaan strategis. Seluruh aktivitas perusahaan nantinya mengacu pada rencana strategis sebagai panduan dasar.
Jaman kita adalah jaman penuh ketidakpastian. Banyak resiko yang kita hadapi, baik alami maupun hasil tindakan manusia, yang belum pernah dihadapi oleh mereka sebelum jaman kita. Ketidakpastian ini meruntuhkan pijakan lama dalam menyusun rencana strategis, yaitu perencanaan berkenaan dengan prediksi terhadap masa depan. Sehingga, kita berambisi untuk menyusun peta perjalanan menuju masa depan yang diprediksikan. Peta perjalanan yang detil dan kondisi eksternal yang relatif stabil membuat persepsi anggota organisasi relatif sama. Rencana strategis dapat saja disusun oleh beberapa orang dan anggota yang lain melaksanakannya.
Ketidakpastian justru menuntut kita untuk menjadikan perencanaan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang berkelanjutan. Seluruh stakeholder dituntut belajar jurus-jurus jitu untuk mengantisipasi perubahan baik secara demografi, sosial budaya, ekonomi, politik dan kompetisi global. Jurus yang mengungkap berbagai kemungkinan positif bagi perusahaan ditengah kesulitan yang dihadapi. Jurus untuk mewujudkan kesesuaian perusahaan dengan lingkungan sekitarnya.
Bagaimana perencanaan strategis dilakukan diperusahaan kita? Bagaimana visi perusahaan diciptakan? Oleh pihak direksi/manajemen? Atau melibatkan seluruh stakeholder? Apakah diciptakan melalui proses yang rasional dan terukur? Atau melalui sharing cerita yang melibatkan emosi positif? Bagaimana fungsi rencana strategis dalam aktivitas keseharian? Apakah sebagai sebuah peta detil yang HARUS dilakukan? Atau sebagai panduan melahirkan tindakan-tindakan inovatif dalam menjawab berbagai tantangan? Apakah rencana strategis menjadi suatu beban atau menjadi suatu tantangan yang menggairahkan? Apakah rencana strategis merealisasikan potensi setiap orang atau justru menata langkah setiap orang sesuai dengan jalur?
Bagaimana menciptakan visi perusahaan yang menggetarkan hati seluruh anggota sehingga seluruh tindakan mengacu pada visi tersebut? Bagaimana menjadikan setiap pihak dengan penuh antusiasme mengimplementasikan strategi perusahaan? Bagaimana perusahaan anda dapat berkonstribusi kepada kesejahteraan masyarakat dari generasi ke generasi? Klik di http://appreciativeorganization.wordpress.com/. Cari tahu, pelajari dan sharing lebih lanjut mengenai perencanaan strategis dengan kerangka pikir baru.
Artikel pertama dari 3 artikel
Categories: Strategic Planning: SOAR
Buku Appreciative Inquiry
May 22, 2007 · 1 Comment
“Appreciative Inquiry adalah pilihan menakjubkan dalam usaha kita melakukan perubahan dengan cepat dan damai. Saya memilih istilah revolusi putih untuk perubahan dengan pendekatan yang luar biasa ini”. Pepeng Jari-jari
“Siapa pun akan mengalami keajaiban hidup dengan Appreciative Inquiry.”
Dani Wahyu Munggoro, penggagas The Art of Vibrant Facilitation,
INSPIRIT INNOVATION CIRCLES
“Appreciative Inquiry merupakan suatu pendekatan perubahan yang tepat buat masyarakat Indonesia saat ini. Appreciative Inquiry berpijak pada potensi dan talenta setiap orang menciptakan matahari imajinatif sebagai panduan dalam bergerak mewujudkan kehidupan bersama yang diidamkan. Pendekatan yang mudah ini, hanya bermodalkan kemauan untuk berubah ke arah saling menghargai, merupakan pendekatan yang dapat digunakan oleh setiap lapisan masyarakat dan organisasi”
Ino Yuwono, Konsultan, Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO)
“Appreciative Inquiry adalah sebuah pendekatan yang memandang manusia dan organisasi dalam kondisi yang terbaik, sebagai pijakan untuk meraih setiap impian bersama. Dengan membaca buku ini, para pemimpin akan mendapatkan panduan praktis bagaimana mensinergikan seluruh energi dalam organisasi untuk menghasilkan pencapaian visi secara luar biasa”
Prof. Dr. M. Zainudin, A.pt, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Appreciative Inquiry adalah sebuah tools yang sangat powerfull bagi para pengembang manusia. Sebagai praktisi pengembangan manusia, saya banyak mengadopsi tools ini khususnya sehubungan dengan membangun peak performance state dan mengelaborasi potensi kemampuan klien, baik individual maupun dalam kapasitas tim. The Shortest Way to Unleash People Potentials, menurut pengalaman saya adalah keunggulan utama metode AI. Bunaiya Sales to Collection Strategist & People Development Expert, M-Knows Consulting
Pemesanan online dapat dilakukan melalui beberapa jaringan berikut ini:
Categories: Appreciative Inquiry
Tagged: Appreciative Inquiry, buku, Indonesia, terjemahan
Appreciative Inquiry: Jalan Setiap Orang untuk Mengubah Dunia
May 22, 2007 · Leave a Comment
Catatan: Ini adalah kata pengantar buku the power of appreciative inquiry yang diterbitkan oleh B-first (Mizan Grup) pada awal 2007. Selamat menikmati!
Artikel bisa dibaca dengan mengklik disini
Categories: Appreciative Inquiry · Appreciative Organization
SOAR (not swot):A New Framework for Strategic Planning
May 22, 2007 · 1 Comment
Jacqueline Stavros, David Cooperrider & D. Lynn Kelley
jstavros@comcast.net, dlc6@po.cwru.edu, lkelley@tfs.textron.com
Overview: The Field of Strategic Planning
The corporate mantra over the last ten years has been change, change, and change. Many of the principles that corporations held as stable and immutable have been turned upside down. Books such as Reengineering the Corporation, The Strategy Focused Organization, The Balance Scorecard, Strategic Thinking: An Executive Approach, Strategy From the Top and Leading Strategic Change have become bestsellers in the corporate world. Corporations that were traditionally considered dominant within industries have shrunk or disappeared, and the march towards globalization has accelerated. For example, in 1976, the majority of the world’s fifty largest companies were U.S. based; by 1995 the number was just 17 (Pattison, 1996).
At the heart of the change one often finds competition. When two similar entities compete for the same scarce resources, often one will win and the other will lose. Competition is not a new phenomenon. The very essence of Darwin’s “survival of the fittest” is competition. The difference is that when similar species compete for the same scarce resources, the outcome is based not on a strategic plan that results in a win–but simply that the species that was naturally the “most fit” to its environment wins. Look how far we have evolved! We now have the ability to plan for survival. Now, it is not the company that unwittingly finds itself the “fittest” that survives–but the company that is best able to strategically think, plan, manage its resources, lead its people, and sustain its future that becomes “fit” enough to survive and indeed thrive.
Given the acceleration of change in recent years, how are companies proactively responding? Obviously, some companies are ignoring the change and are being left in the dust. However, the majority of companies that are responding to the change are limiting their responses to operational and tactical areas. Companies are answering the “call of the changing world” with such approaches as new processes, new procedures, downsizing, rightsizing, lean manufacturing, Six Sigma, virtual integration, core versus context exercises, value chain analysis, e-business models and other new ways of running their business. These methods have shown the ability to produce dramatic results. However, the common theme that runs through all of these responses is their focus on new ways of performing the daily operations of the organization. There has been a great void in new methods to be used in the one area specifically designed to prepare for the changing future-an appreciative based approach to strategic planning! We need to change the way we plan!
Think about this. Change requires action. Action requires a plan. A plan requires a strategy. A strategy requires goals and enabling objectives. Goals and objectives require a mission. A mission is defined by a vision. A vision is set by one’s values. And, the Appreciative Inquiry (AI) approach to strategic planning starts by focusing on the strengths of an organization and its stakeholders’ values.
In spite of the tumultuousness of our competitive environment, with few exceptions, the core of the strategic planning approach used by U.S. corporations has been virtually unchanged over the last fifty years. For instance, almost all strategic planning processes contain the “old standby” of completing a SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats) analysis, or its counterpart TOWS (threats, opportunities, weaknesses, and strengths) Analysis. The question this raises, is if companies are using the traditional strategic planning approach–and are failing in spite of it, perhaps we need to change or challenge the approach. We want to offer an alternative to the SWOT analysis. Our alternative is to SOAR (strengths, opportunities, aspirations, results). But first let’s take a brief look at history of strategic planning.
Lengkapnya klik disini 2003-soar-article.pdf
Categories: Strategic Planning: SOAR

RSS - Posts






