appreciative organization

The Dancing Leader

November 28, 2007 · 6 Comments

Kolom Appreciative Life
The Dancing Leader

“While I dance I cannot judge, I cannot hate, I cannot separate myself from life. I can only be joyful and whole. That is why I dance.” Hans Bos

The Dancing Leader? Apa pula itu? Pemimpin macam apa pula ini? Padahal sudah banyak dikenal bermacam-macam model pemimpin. Saya coba ambil buku “Paradigma Baru Kepemimpinan”. Dari buku itu saja, dapat kita temukan 27 model kepemimpinan seperti Kepemimpinan yang berani, Kepemimpinan Super hingga Kepemimpinan Emosional.

Menariknya, banyak pakar menggunakan cara yang sama tetapi berbeda kesimpulannya. Secara umum ditandai dengan kalimat, “…setelah mewawancarai ratusan bahkan ribuan pemimpin maka saya menyimpulkan pemimpin adalah….”. Mengapa demikian? Pada dasarnya, kepemimpinan adalah fenomena unik, digeneralisasi pun akan tetap sampai pada kesimpulan yang unik pula.

The dancing leader bukanlah salah satu teori kepemimpinan. Bukan sebuah model kepemimpinan baru. Tidak lagi menambah model kepemimpinan yang sudah banyak. Sama sekali bukan. The dancing leader adalah sebuah teori tindakan (action theory) yang memfasilitasi setiap pelaku untuk menyadari dan menciptakan model kepemimpinannya yang unik.
***
Apa yang terbayang dibenak anda ketika mendengar kata menari? Anak kecil yang bebas menari? Agnes monica yang menyanyi sambil menari? Penari jawa yang gemulai? Dancing with wolves-nya Kevin Costner? Pretty woman? Kebebasan? Harmoni? Keindahan? (terima kasih buat pak eko, mbak agnes, mas helmi, mas kusnan, mas heri we, mbak ria) Apapun. Bayangkan gambaran yang muncul mengenai menari.

Menari pasti bersangkut paut dengan gerakan (movement) atau rangkaian tindakan. Suatu gerakan sepenuh hati oleh seseorang dalam mengekspresikan diri untuk tujuan personal, sosial atau spiritual. Untuk memainkan sebuah tarian, orang harus menjadi diri sendiri dan melakukannya dengan sepenuh. Menari karena ingin menari. Bukan karena tujuan diluar menari. Entah itu uang. Atau tepukan penonton. Menari berarti menyelaraskan seluruh kapasitas diri. Menari berarti menyelaraskan kapasitas diri dan kapasitas penari yang lain dengan musik pengiring.

Karena ekspresi diri, setiap tarian bersifat otentik. Sebagian orang lebih menyukai tarian samba yang lebih bergelora, orang yang lain memilih memainkan tarian bedoyo yang lebih kalem. Bahkan sebuah gerakan tarian yang sama, dimainkan dengan cara yang berbeda oleh setiap orang. Kita pun bisa menciptakan tarian kita sendiri.
Menjadi seorang penari berarti menjadi orang yang dinamis. Penari bertindak, berupa langkah-langkah yang berulang maupun lirikan mata yang mengundang. Gerakan yang selaras dengan suatu irama dan dengan gerakan penari lain. Penari bergerak mengikuti suatu pakem secara bebas. Fleksibel dalam koridor.

Apapun tariannya pastilah atraktif. Menarik hati. Tetapi penari sejati, tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada orang lain untuk menarik perhatian, memaksa orang lain mengikuti gerakannya. Terakhir, setiap tarian menenangkan jiwa. Entah dengan mengekspresikan kegembiraan. Entah dengan menghayati sebuah penderitaan. Entah dengan menampilkan kemarahan yang paling seronok.

Dan terciptalah tarian terindah!

Begitu pula dengan seorang pemimpin sebagai penari. Pemimpin melakukan kepemimpinan dengan sepenuh hati. Setiap orang mempunyai gaya kepemimpinannya yang khas, memainkan tariannya sendiri. Tak heran, kita jadi mengenal begitu banyak model kepemimpinan, yang sesungguhnya semuanya itu sama-sama benar. Kepemimpinannya ditandai dengan adanya tindakan yang ritmis. Pemimpin bukannya mereka yang berdiam diri semata. Ketika menemui tantangan, pemimpin menghadapinya secara fleksibel tetapi tetap dalam koridor. Pemimpin pun harus atraktif, menarik hati orang-orang disekitarnya. Sekaligus, bisa menggembirakan, menenangkan dalam keadaan tertekan, maupun marah dalam situasi yang tepat.

Lalu, apa gunanya the dancing leader? Dalam bekerja, kita berjumpa dengan berbagai perubahan. Perubahan rekan kerja, bawahan, atasan, proses produksi, lingkungan kerja, aturan pemerintah, tugas baru, tuntutan customer, dan yang lainnya. Apabila elemen-elemen itu merupakan sebuah ritme musik, maka seorang penari luwes menarikan tarian yang selaras dengan ritme musik. Mungkin memainkan tari saman. Atau tari yosim pancar. Apapun. Selama sang penari itu menghayati tarian tersebut. Tarian yang membuat dirinya tetap menjadi diri sendiri. Sehingga, hasilnya sebuah tarian yang indah. Tarian yang memuaskan diri sekaligus para penonton.

Begitulah the dancing leader. Ia lihai menciptakan gerak antisipatif terhadap perubahan yang dihadapi. Mungkin ia akan memainkan kepemimpinan super dalam menghadapi tuntutan customer. Di lain waktu, ia akan memainkan kepemimpinan emosional dalam menghadapi bawahan yang keras kepala. Atau, bisa jadi ia akan mengkombinasikan dua model kepemimpinan. Apapun modelnya, ia tetap bisa menikmati mode kepemimpinan itu. Model kepemimpinan yang membuatnya tetap menjadi diri sendiri. Sehingga, ia tetap enjoy dengan kehidupan dan kepemimpinannya, sekaligus ia memuaskan para stakeholder.

***

Sungguh menakjubkan apabila setiap waktu, di setiap tempat di organisasi, kita bisa menyaksikan berbagai tarian yang menawan. Lebih dalam lagi, mengingat kata-kata berikut:

Talk about dance? Dance is not something to talk about. Dance is to dance. ~Peter Saint James

Maka kita hentikan pembahasan. Siapkan hati. Bergerak. Bergerak. Bergerak. Mengikuti irama hati. Memainkan tarian tercantik kita!

Sumber: Majalah People and Bussiness

Budi Setiawan, M.Psi. Pendidik di Fakultas Psikologi Unair. LP3T Pelopor Psikologi Positif

Tentang The Dancing Leader dapat dipelajari pula di

Mengenali Pola, Lahirkan Perubahan

Siapakah Mereka yang Menari?

Siapa Lagi yang Menari?

Categories: The Dancing Leader
Tagged: , , , , , , ,

6 responses so far ↓

  • antzforleadership // November 14, 2007 at 4:34 am | Reply

    Artikel yang menggelitik.

    Salam kenal Pak. Saya tertarik untuk belajar mengenai AI ini. Ada buku2 yng bisa direkomendasikan?

    Salam,

    Teddi

  • antzforleadership // November 14, 2007 at 4:36 am | Reply

    Oh ya, satu lagi Pak. Apakah ada training2 mengenai AI di Indonesia?

    Salam,

    Teddi

  • Wati // November 20, 2007 at 10:59 am | Reply

    Bukik, aku jadi tergelitik untuk mengomentari bagaimana kalo pemimpinnya menari kecak yang sedang trance? ha ha ha….gaya kepemimpinan sing seringkali ngamuk-ngamuk ngomel gak keru-keruan gitu kali ya …aduh pemimpin ini kudunya ikut pelatihanmu ajalah…)))

    Seru banget, salut dengan tulisan-tulisanmu.

    Salam,
    Wati

  • appreciativeorganization // November 29, 2007 at 4:30 am | Reply

    wah sungguh senang dikunjungi oleh mas teddy
    buku kl in english banyak……kalau bahasa indonesia kami sudah menerjemahkan judulnya the power of appreciative inquiry…..buku yang sangat praktis…..
    pelatihan mengenai ai….setahu saya belum ada mas….

  • MAW // May 1, 2009 at 6:06 pm | Reply

    Lantas,,,bgmn jika sso itu menciptakan tarian tetapi yg terjadi bknnya menciptakan sst yg mempunyai nilai estetika tp justru sebaliknya?

    Hehehehe…salam kenal

  • appreciativeorganization // May 4, 2009 at 4:23 pm | Reply

    waaaaah
    kalau gitu mah banyak temennya
    azeb azeb
    mencipta tarian yang selaras dengan alam tentunya yang bisa menjadi pemimpin besar

Leave a Comment