appreciative organization

SeLaMat HaRi RaYa IduL FiTri 1430H

September 17, 2009 · Leave a Comment

Puasa adalah perubahan kebiasaan & gaya hidup, menjadi penuh kesadaran dan kepekaan sosial. Menyucikan jiwa kita, nurani kita, diri kita…..menjadi selembar kertas putih…….apakah kita akan menulis hal yang sama seperti tahun lalu? Lalu dimanakah syukur itu?

Mari kita semua menuliskan pada naskah suci hidup kita, hal-hal baru, hal-hal beda, walau itu mungkin dipandang berbahaya bagi sebagian orang. Karena itulah tanda bahwa kita telah bersyukur.

SeLaMat HaRi RaYa IduL FiTri 1430H.

Bukik

→ Leave a CommentCategories: Appreciative Inquiry
Tagged: ,

World Cafe Coversation ala imagine indONEsia…..

August 18, 2009 · 1 Comment

Awalnya, mau ngadain di bengawan solo karena alasan sepele, nama yang eksotik. Sayang mau booking tempat ternyata gak bisa. Disuruh langsung datang. Nah pada hari H ternyata semua kursi terisi oleh kawan-kawan club motor. Akhirnya setelah beberapa gelintir gerombolan i2 datang, kami bersepakat untuk pindah ke excelso sutos. Tepat di sebelahnya. Sempat rame sih. Karena ada yang mempermasalahkan excelso itu milik asing. Dari pada rame, langsung aja deh tanya di excelso. Dapat jawaban. Indonesia. Lega deh. Tapi buntutnya, karena pertanyaan itu mereka pikir i2 mau buka franchise excelso. Sebuah brosur excelso di sodorkan ke kami. hahahahaha pada ngakak semua.

Maafkan apabila ada rekan yang sempat nyasar di bengawan solo. Atau bahkan kehilangan jejak i2. Maaf
Keep reading →

→ 1 CommentCategories: Appreciative Inquiry · My Way Culture

Kemerdekaan Indonesia sebagai Imaji

August 18, 2009 · Leave a Comment

“…tunjukkan padaku yang kamu sebut indonesia? Niscaya kamu hanya akan menunjuk tanda dan simbol belaka…” (kutipan status FB….hahahaha)

Ketika anda diminta menunjuk apa yang anda maksud dengan indonesia, apa yang akan anda tunjuk? Merah putih? Garuda? Pancasila? Orang Indonesia? Soekarno – Hatta? Atau sebuah petak dalam peta? Atau tulisan “Indonesia”? Begitulah. Setiap kali kita diminta menunjuk Indonesia maka kita akan menunjuk pada tanda atau simbol yang menggambarkan Indonesia. Karena Indonesia adalah imaji. Indonesia adalah ide. Kita yakini keberadaan indonesia tetapi tidak pernah bisa kita tunjuk. Indonesia ada dalam benak kita. Sebagaimana pandangan Ben Anderson, bangsa adalah sebuah komunitas yang dibayangkan.

Oleh karena itu, ketika berbicara mengenai indonesia jauh lebih penting kesadaran subyektifitas setiap orang daripada kenyataan obyektif yang ada. Indonesia adalah sebentuk imaji yang kita sadari dengan segala pengalaman historis, harapan dan impian kita. Pengalaman berbeda akan membentuk indonesia yang berbeda. Keunikan harapan dan impian akan menentukan keunikan indonesia yang kita bayangkan. Kesadaran subyektif akan indonesia ini yang akan menentukan tindakan-tindakan kita terhadap indonesia. Imaji kita akan menginspirasi tindakan kita. Image inspire action.
Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Appreciative Inquiry

Mengkreasikan budaya organisasi melalui metafor

August 11, 2009 · Leave a Comment

→ Leave a CommentCategories: My Way Culture · pengembangan organisasi
Tagged: , , , , ,

Indonesia Kehilanganmu

August 7, 2009 · Leave a Comment

…..komunitas imagine indONEsia…..turut berduka….indonesia kehilangan dua tokoh mbah surip dan WS Rendra, yang berani menjadi diri sendiri, menjadi indonesia yang beda, yang unik…….semoga damai di sisi-Nya……

→ Leave a CommentCategories: Appreciative Inquiry · Uncategorized

imagine! indONESia

August 5, 2009 · 11 Comments

ImagineIndonesia

Tantangan terbesar bangsa ini
Krisis terbesar bangsa ini

KRISIS IMAJINASI

Kita selalu membayangkan Indonesia sebagai sebuah warisan yang telah coreng-moreng. Sebuah bayangan yang terus membuat kita terpuruk

Sudah saatnya
Orang-orang muda membangkitkan kembali imajinasi tentang Indonesia
Imajinasikan indonesia sebagai sebuah harapan milik kita
Indonesia yang indie! Indonesia yang funky!
Imajinasikan indonesiaku! Imajinasikan indonesiamu! Imajinasikan indonesia kita!

Ajak semua orang untuk berimajinasi
Karena

Imajinasi adalah energi
Imajinasi adalah semangat
Imajinasi adalah harapan

Kunci kebangkitan indonesia

Bagaimana caranya mengajak orang berimajinasi?

  1. Gunakan logo i2 dalam sebuah media digital kita. Sebagai foto profile Facebook. Sebagai wallpaper HP dan komputer kita.
  2. Tempel stiker logo i2 di kendaraan kita. Bagikan kepada semua kawan
  3. Tuliskan logo i2 pada semua tempat yang mencolok, menarik dan memikat
  4. Terakhir, gunakan imajinasi anda!

Merdeka! Berimajinasi

→ 11 CommentsCategories: Appreciative Inquiry
Tagged: , , ,

Hidup yang Erotik

August 5, 2009 · 1 Comment

(Merevitalisasi Kehidupan Modern dengan Semangat Purba)

“……..Krisis terbesar bukan ekonomi, politik, bahkan bukan moral. Namun, krisis imajinasi. Orang kepentok pada jalan buntu karena tak mampu mengimajinasikan ulang hidupnya secara berbeda dari apa yang sekarang dijalaninya…….”

EROS, erotik, erotisme. Tiga kata ini akarnya sama. Suasananya juga sama: gelora semangat purba yang atraktif dan menggoda. Menjijikkan bagi kaum saleh tapi menggairahkan bagi orang kebanyakan, kotor bagi para pemeluk teguh tapi merangsang bagi warga abangan, najis bagi umat alim tetapi tonikum vital bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Kata Gafni, eros adalah energi vital yang suci. Eros dan spiritualitas ternyata berkaitan erat secara mendalam. Tegasnya, yang erotik dan yang kudus sebenarnya serupa dan sama. Maka, hidup yang erotik adalah hidup yang sakral. Bahkan, tanpa eros kesucian kita cuma ecek-ecek, tidak jenuin dari jiwa yang terdalam. Tanpa eros, kesalehan kita pura-pura saja, tidak meresap sampai ke batin. Tanpa eros, tatanan etika kita di semua tingkat: personal-interpersonal, profesional-organisasional, dan sosio-politikal cuma topeng-topeng saja, membebani dan mematikan gairah. Dan kita tahu, tatanan semacam ini akhirnya akan runtuh dari dalam meskipun dari luar terlihat masih utuh.

Hidup tanpa eros sepi dan kosong, yang ditandai dengan rasa resah melelahkan dan rasa bosan menekan. Tekanan ini berasal dari sebuah ruang hampa di hati manusia. Itulah hati yang sunyi-senyap dari gempita eros, yang hampa-kosong dari desah nafas eros. Lalu, untuk menghindari tekanan itu, orang lari ke berbagai kesibukan. Tapi sebenarnya kesibukan itu cuma sebuah laku penghindaran, avoidance–a-void-dance, sebuah tarian di sekitar kehampaan. Meski terlihat sibuk, sesungguhnya aktivitas non-erotik itu adalah sebuah tarian hampa, banal tanpa estetika. Dan untuk memenuhi kehampaan itu orang mencari berbagai jenis gratifikasi seperti pesta narkoba, seks suka-suka, atau kekerasan massal bergemuruh. Namun, lagi-lagi, sebenarnya tak ada pesta, tak ada sukacita. Sebab ternyata, usai acara, semua pemesta kembali ke dunia nestapa.
Keep reading →

→ 1 CommentCategories: Appreciative Inquiry
Tagged: , , , ,