Entries categorized as ‘Appreciative Inquiry’
Awalnya, mau ngadain di bengawan solo karena alasan sepele, nama yang eksotik. Sayang mau booking tempat ternyata gak bisa. Disuruh langsung datang. Nah pada hari H ternyata semua kursi terisi oleh kawan-kawan club motor. Akhirnya setelah beberapa gelintir gerombolan i2 datang, kami bersepakat untuk pindah ke excelso sutos. Tepat di sebelahnya. Sempat rame sih. Karena ada yang mempermasalahkan excelso itu milik asing. Dari pada rame, langsung aja deh tanya di excelso. Dapat jawaban. Indonesia. Lega deh. Tapi buntutnya, karena pertanyaan itu mereka pikir i2 mau buka franchise excelso. Sebuah brosur excelso di sodorkan ke kami. hahahahaha pada ngakak semua.
Maafkan apabila ada rekan yang sempat nyasar di bengawan solo. Atau bahkan kehilangan jejak i2. Maaf
(more…)
Categories: Appreciative Inquiry · My Way Culture
“…tunjukkan padaku yang kamu sebut indonesia? Niscaya kamu hanya akan menunjuk tanda dan simbol belaka…” (kutipan status FB….hahahaha)
Ketika anda diminta menunjuk apa yang anda maksud dengan indonesia, apa yang akan anda tunjuk? Merah putih? Garuda? Pancasila? Orang Indonesia? Soekarno – Hatta? Atau sebuah petak dalam peta? Atau tulisan “Indonesia”? Begitulah. Setiap kali kita diminta menunjuk Indonesia maka kita akan menunjuk pada tanda atau simbol yang menggambarkan Indonesia. Karena Indonesia adalah imaji. Indonesia adalah ide. Kita yakini keberadaan indonesia tetapi tidak pernah bisa kita tunjuk. Indonesia ada dalam benak kita. Sebagaimana pandangan Ben Anderson, bangsa adalah sebuah komunitas yang dibayangkan.
Oleh karena itu, ketika berbicara mengenai indonesia jauh lebih penting kesadaran subyektifitas setiap orang daripada kenyataan obyektif yang ada. Indonesia adalah sebentuk imaji yang kita sadari dengan segala pengalaman historis, harapan dan impian kita. Pengalaman berbeda akan membentuk indonesia yang berbeda. Keunikan harapan dan impian akan menentukan keunikan indonesia yang kita bayangkan. Kesadaran subyektif akan indonesia ini yang akan menentukan tindakan-tindakan kita terhadap indonesia. Imaji kita akan menginspirasi tindakan kita. Image inspire action.
(more…)
Categories: Appreciative Inquiry

Tantangan terbesar bangsa ini
Krisis terbesar bangsa ini
KRISIS IMAJINASI
Kita selalu membayangkan Indonesia sebagai sebuah warisan yang telah coreng-moreng. Sebuah bayangan yang terus membuat kita terpuruk
Sudah saatnya
Orang-orang muda membangkitkan kembali imajinasi tentang Indonesia
Imajinasikan indonesia sebagai sebuah harapan milik kita
Indonesia yang indie! Indonesia yang funky!
Imajinasikan indonesiaku! Imajinasikan indonesiamu! Imajinasikan indonesia kita!
Ajak semua orang untuk berimajinasi
Karena
Imajinasi adalah energi
Imajinasi adalah semangat
Imajinasi adalah harapan
Kunci kebangkitan indonesia
Bagaimana caranya mengajak orang berimajinasi?
- Gunakan logo i2 dalam sebuah media digital kita. Sebagai foto profile Facebook. Sebagai wallpaper HP dan komputer kita.
- Tempel stiker logo i2 di kendaraan kita. Bagikan kepada semua kawan
- Tuliskan logo i2 pada semua tempat yang mencolok, menarik dan memikat
- Terakhir, gunakan imajinasi anda!
Merdeka! Berimajinasi
Categories: Appreciative Inquiry
Tagged: imagine, imagine indonesia, Indonesia, indonesia impian
(Merevitalisasi Kehidupan Modern dengan Semangat Purba)
“……..Krisis terbesar bukan ekonomi, politik, bahkan bukan moral. Namun, krisis imajinasi. Orang kepentok pada jalan buntu karena tak mampu mengimajinasikan ulang hidupnya secara berbeda dari apa yang sekarang dijalaninya…….”
EROS, erotik, erotisme. Tiga kata ini akarnya sama. Suasananya juga sama: gelora semangat purba yang atraktif dan menggoda. Menjijikkan bagi kaum saleh tapi menggairahkan bagi orang kebanyakan, kotor bagi para pemeluk teguh tapi merangsang bagi warga abangan, najis bagi umat alim tetapi tonikum vital bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat.
Kata Gafni, eros adalah energi vital yang suci. Eros dan spiritualitas ternyata berkaitan erat secara mendalam. Tegasnya, yang erotik dan yang kudus sebenarnya serupa dan sama. Maka, hidup yang erotik adalah hidup yang sakral. Bahkan, tanpa eros kesucian kita cuma ecek-ecek, tidak jenuin dari jiwa yang terdalam. Tanpa eros, kesalehan kita pura-pura saja, tidak meresap sampai ke batin. Tanpa eros, tatanan etika kita di semua tingkat: personal-interpersonal, profesional-organisasional, dan sosio-politikal cuma topeng-topeng saja, membebani dan mematikan gairah. Dan kita tahu, tatanan semacam ini akhirnya akan runtuh dari dalam meskipun dari luar terlihat masih utuh.
Hidup tanpa eros sepi dan kosong, yang ditandai dengan rasa resah melelahkan dan rasa bosan menekan. Tekanan ini berasal dari sebuah ruang hampa di hati manusia. Itulah hati yang sunyi-senyap dari gempita eros, yang hampa-kosong dari desah nafas eros. Lalu, untuk menghindari tekanan itu, orang lari ke berbagai kesibukan. Tapi sebenarnya kesibukan itu cuma sebuah laku penghindaran, avoidance–a-void-dance, sebuah tarian di sekitar kehampaan. Meski terlihat sibuk, sesungguhnya aktivitas non-erotik itu adalah sebuah tarian hampa, banal tanpa estetika. Dan untuk memenuhi kehampaan itu orang mencari berbagai jenis gratifikasi seperti pesta narkoba, seks suka-suka, atau kekerasan massal bergemuruh. Namun, lagi-lagi, sebenarnya tak ada pesta, tak ada sukacita. Sebab ternyata, usai acara, semua pemesta kembali ke dunia nestapa.
(more…)
Categories: Appreciative Inquiry
Tagged: eros, gairah, hasrat, imaginasi, imagine indonesia
BusinessWeek article:
“Deficit thinking” sees organizations focusing on what’s wrong and problems that need to be solved. In doing so, they often overlook real opportunities
By Fred Collopy
It is practically a mantra of modern management that the first task in dealing with a situation is to define the problem accurately. Only after managers have done that can they hope to get all team members “on the same page.” It’s widely felt that without agreement on the problem we will be unable to succeed.
But there are problems with the way managers and groups approach problems. The first is that we rush to identify the problem so that we can get on with the real work of solving it, which can lead down a costly or disruptive path. There is seldom a single correct formulation for the interesting issues that face managers. Yet the particular path chosen affects the solution produced.
For instance, for a time the downloading of music from the Internet was viewed as a problem of young people stealing from the music industry. Advertisements and lawsuits aimed at curbing the practice were not particularly effective. With the problem reframed as a channel management problem,iTunes provided a more satisfying result.
click here
Categories: Appreciative Inquiry
Tagged: Appreciative Inquiry, organizational development, pengembangan organisasi