Sebuah proyek perintis dalam menciptakan Development Centre (DC): Leadership Development Program yang terdiri dari workshop kepemimpinan transformatif, asesmen kompetensi kepemimpinan (pre test), training the dancing leader, coaching dan asesmen kompetensi kepemimpinan (post test).
Video ini adalah cuplikan dari kegiatan pertama, workshop kepemimpinan transformatif
Seri The Dancing Leader
Saya tengah memimpin dua organisasi yang sangat berbeda. Ibarat sebuah musik. Organisasi yang satu seperti rock, keras, bertenaga, cepat, dalam keteraturan yang terpimpin. Organisasi yang lain seperti jazz, ritme penuh improvisasi mendekati liar, bisa penuh keras bertenaga yang tiba-tiba bisa lembut mendayu. Keteraturan dalam ketidakteraturan.
Organisasi yang satu bekerja mengarah pada target. Aturan-aturan yang tertulis. Kualitas yang terjaga. Cepat menyelesaikan pekerjaan. Kepemimpinan yang jelas. Organisasi yang lain. Bekerja mengarah pada kesenangan. Aturan kata-kata. Kualitas terbaik, terkadang menurun. Sungguh menikmati waktu. Kepemimpinan berganti-ganti.
Bayangkan. Bagaimana saya menari di dua pentas tersebut? Atau anda sendiri yang justru mengalami hal seperti itu? (more…)
Semalam, Damai sulit tidur. Gara-gara kipas angin. Damai yang sudah kliyep-kliyep, mau bobo. Tiba-tiba bangun ketika tahu bapaknya datang. “pas anyin, pas anyin” katanya sambil berlari menyambut kipas angin yang tengah saya bawa. Tak terasa 1 jam dia bermain dengan kipas angin. Tidur pun minta ke kamar nenek, tempat kipas angin itu diletakkan. Merengek. Menangis. Memukul pintu kamar. Pokoknya menolak tidur, terlebih di kamarnya sendiri. (more…)
Sebanyak 400 an peserta berkarnaval, ber fashion run way dan dance, di jalan utama kota Jember disaksikan oleh ratusan ribu penonton di kanan dan kiri jalan. Mereka terbagi dalam 8 defile yang masing-masing defile mencerminkan trend fashion pada tahun yang bersangkutan. Defile pertama adalah defile Archipelago yang mengangkat tema busana nasional dari daerah tertentu secara berkala seperti Jawa, Bali, Sumatera, dan seterusnya. Defile lainnya mengangkat tema fashion yang sedang trend apakah dari suatu negara, kelompok tertentu, film, kejadian atau peristiwa global lainnya. Semua busana dibuat dalam bentuk costume yang kesemuanya dikompetisikan untuk meraih penghargaan-penghargaan. (more…)
Beberapa hari terakhir, saya merasa penuh dengan beban. Berhenti. Keluar. Berhenti. Keluar. Begitulah mungkin hati saya kalau bisa berteriak. Menuntut berhenti dari segala macam urusan. Menuntut keluar dari semua persoalan. Satu persoalan datang, tanpa kenal kompromi, gelap mata persoalan lama belum terselesaikan. Saat saya mengeluh ke seorang kawan. Dia dengan seenaknya tertawa sinis, “Mau keluar? Ndak usah mimpi…lha periuk nasi kamu disitu. Mau makan apa anak isterimu?”.
Dan nasib buruk pun masih berlanjut. Persoalan tidak lagi hadir di dunia nyata. Ketika saya sadar. Persoalan itu mengendap-endap memasuki mimpi saya. Siang yang penat digenapi dengan malam yang gelisah. Sudah kerja tidak nyaman. Tidur pun tak nyenyak. Menjalani hidup saat ini susah. Membayangkan masa depan, “tau ah gelap” kata mahasiswa saya. Nasib. Nasib. Dosa apa hamba gerangan? (more…)
Setiap orang punya mimpi. Bedanya, ada yang terus berangan-angan, bermimpi di atas awan, menebar citra keberhasilan walau menuai ketidakpuasan dan keraguan, tetapi ada yang berani mewujudkan dengan risiko apa pun.
Dynand Fariz (44) termasuk yang terakhir. Dari Jember, Jawa Timur, dia berani bermimpi besar dan mengambil berbagai risko untuk untuk membuat dunia menoleh ke Jember. Jember Fashion Carnaval yang dia rintis pada tahun 2000 semakin dikenal di tingkat nasional dan tahun lalu mulai diundang ke luar Indonesia. (more…)
“The leader of the past may have been a person who know how to tell, but the leader of the future will be a person who know how to ask.” (Peter Drucker)