Entries categorized as ‘Strategic Planning: SOAR’
Jumat, 29/06/2007 14:38 WIB
oleh : A. B. Susanto (Managing Partner The Jakarta Consulting Group)
Respons yang tinggi dari para pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Metode SOAR (SWOT vs. SOAR, Bisnis, Minggu, 3 Juni) mengggugah penulis untuk membahasnya lebih lanjut. SOAR (strengths, opportunities, aspirations, results) merupakan hasil pengintegrasian antara konsep appreciative Inquiry (AI) dengan perencanaan strategis guna menciptakan proses transformasional organisasi agar tetap kompetitif.
SOAR adalah sebuah pendekatan yang inovatif serta berbasiskan pada kekuatan (strength-based approach) terhadap perencanaan strategis. SOAR dapat membuat kita lebih memfokuskan diri kepada hal yang paling penting, yaitu masa depan karyawan dan organisasi.
(more…)
Categories: Strategic Planning: SOAR
Apa itu AI Summit?
AI Summit adalah suatu metodologi untuk memfasilitasi perubahan dengan cara melibatkan semua pihak, baik pihak internal maupun eksternal suatu organisasi. AI Summit merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mengajak sekelompok orang (30-3000) untuk berpartisipasi dalam (1) menggali kompetensi inti dan kekuatan organisasi atau komunitas (2) melihat kesempatan-kesempatan bagi perubahan yang positif (3) merancang suatu perubahan yang diinginkan ke dalam struktur, strategi, sistem, dan budaya organisasi atau komunitas, dan (4) menerapkan serta mempertahankan perubahan tersebut. AI Summit berkembang karena adanya asumsi dasar bahwa suatu organisasi akan mengalami perubahan yang tercepat dan terbaik ketika orang-orang yang berada di dalamnya bersemangat dengan arah perubahan tersebut, memiliki rencana yang jelas, dan percaya diri akan kemampuan mereka untuk meraih apa yang diinginkan. Dengan kata lain, perubahan organsiasi yang efektif dan cepat merupakan hasil dari adanya “keutuhan” (whole system) yang berpusat pada kekuatan dan ide yang menciptakan semangat untuk bertindak.
Hubungan Antara AI Summit dengan Proses Kelompok Besar Lainnya
AI Summit dibangun berdasarkan metodologi bahwa semua orang harus terlibat aktif dalam meningkatkan sistem keseluruhan organisasi. Hanya saja, AI Summit lebih menekankan pada inovasi dan kekuatan positif untuk menghasilkan kinerja organisasi yang luar biasa. AI Summit didasarkan pada pemahaman bahwa masa depan itu sesuatu yang tidak pasti dan tidak diketahui, dan orang-orang yang berada di dalam organisasi secara simultan terlibat dalam proses untuk membangun sesuatu yang baru. Dan, ketika orang-orang yang berada di dalam organisasi berada pada kondisi terbaiknya, mereka dapat menciptakan inovasi bagi kinerja yang luar biasa.
(more…)
Categories: Strategic Planning: SOAR
Written by John Sutherland and Jacqueline Stavros
The origins of strategy are deeply rooted in our warfare history. Current strategic models and thinking have a bias towards ‘killing off the competition’. Even if this was appropriate in the past, it is inappropriate now in our interconnected world, where the idea of ‘us and them’ only serves to increase conflict. We need to choose a new heart for strategy – one that is consistent with the principles and spirit of Appreciative Inquiry (AI).
This article explores the development of strategy from the battlefields of war to the boardrooms of our client organisations. It shows how the current warfare mindset has stayed in place despite many years of new thinking and writing. It considers the implication it begins to explore what an Appreciative Strategy might look like and sound like, and introduces a field book of practical tools for use in strategic consulting.
(more…)
Categories: Strategic Planning: SOAR
Oleh Budi Setiawan. Master Appreciative Inquiry, Kata pengantar buku The Power of Appreciative Inquiry
Bagaimana cara kita memahami organisasi kita? Ada sebuah alat bantu yang sangat simpel, buatlah gambar organisasi kita! Lho kok gambar? Iya, sesuatu yang kita gambarkan itu mewakili imaji tentang organisasi kita. Pada dasarnya, manusia bertindak tidak berdasarkan data, angka, jumlah-jumlah kuantitatif dalam bertindak. Kita tidak melakukan tindakan antisipatif semata karena tingkat penjualan menurun. Tindakan kita lebih didasarkan pada imaji tertentu tentang masa depan yang muncul setelah kita melihat data penjualan. Ketika imaji yang muncul adalah sosok diri kita sebagai manajer pemasaran atau manajer penjualan maka kita akan bereaksi gembira dan menggunakan data itu untuk mengkritik manajer saat ini. Ketika imaji yang muncul adalah bonus yang berkurang maka kita akan khawatir dan melakukan tindakan untuk meningkatkan penjualan. Imaji masa depan menjadi basis dalam menginterpretasikan realitas yang kita hadapi saat ini. Imaji tentang organisasi yang memandu tindakan-tindakan kita yang membentuk organisasi kita.
Power of Image! Kekuatan imaji inilah yang menjadi basis rekan-rekan kita yang bergerak di bidang advertising. Imaji menjadi sesuatu yang diperjuangkan dengan berbagai daya upaya. Mereka sadar benar bahwa imaji suatu merek akan menentukan tindakan yang akan dilakukan pelanggan. Dalam studi psikologi, imaji murid yang ada dibenak guru menjadi faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran. Dalam keseharian, apabila kita mempunyai imaji positif terhadap orang yang ada dihadapan maka akan bertindak positif pula.
(more…)
Categories: Strategic Planning: SOAR
Article yang menarik dan perlu diangkat untuk suatu diskusi…Seorang HR dapat memaksimalkan kontribusinya untuk menuju Living Company.
Ketika menjadi seorang praktisi HR di perusahaan minyak asing selama 20 tahun, aplikasi HR di perusahaan minyak asing sungguh sangat advance, sehingga ketika mulai terjun dikancah manajemen nasional terasa sekali perbedaannya. Jangankan memikirkan mengenai CSR (Corporate Social Responsibility) atau bagaimana mempertahankan karyawan agar dapat bekerja hingga masa pensiun atau pasca pensiun mereka hidup dengan layak, niat untuk membayar UMR saja sebisa mungkin dihindarkan atau membayar formula perhitungan dasar upah lembur juga dihindarkan. Lalu bagaimana produktifitas bisa ditingkatkan kalau kebanyakan perusahaan nasional menjalankan hal-hal serupa itu. Entah perlu berapa puluh tahun kita dapat menyamai Singapore dalam hal produktifitas ini, katanya satu orang Singapore dapat disamakan dengan 8 orang Indonesia untuk menuntaskan sebuah proses.
Tentunya dilain pihak, pekerja Indonesia masih sedikit yang punya kegemaran multitasking. Banyak yang sudah puas dengan apa yang mereka ketahui dan kurang gemar untuk mencoba hal-hal baru yang lebih menantang atau membuat mereka lebih effektif dan effisien. Kebanyakan mereka hanya bekerja sesuai job des…
Nah proses timbal balik ini perlu ada kalau mau bertumbuh baik dan pesat. Saya pernah baca mengenai perusahaan Rodale Press yang menganut sistim bertumbuh ini (logo perusahaannya seperti pohon – ada akar batang ranting daun etc), yang juga membuat sistim dimana setiap prosess harus ada added value sehingga apa yang dilakukan pekerja ada kontribusinya ke pertumbuhan perusahaan dan dilakukan dengan gairah yang tinggi karena ada pertumbuhan yang terjadi bahkan ketika yang punya gagasan perubahan sudah tidak ada lagi. Pada akhirnya proses timbal balik yang berulang-ulang yang membuat putaran naik keatas untuk suatu pertumbuhan yang berkelanjutan. Nah kalau sudah begini, harapan hidup perusahaan akan lebih baik tentunya harapan hidup manusia ikut-ikutan.
Proses perubahan paradigma yang baru memang diperlukan, tapi untuk memulai dengan “adillah sejak mulai dari hatimu” perlu membuang sampah-sampah memori dulu (terlalu banyak sampah yang harus dibuang). Sehingga tidak banyak distorsi ketika akan menumbuh kembangkan purpose driven company.
Pak Budi Setiawan, article kedua dan ketiga sangat ditunggu….
Salam,
Debra Lapian
Categories: Strategic Planning: SOAR
A. B. Susanto*
Satu lagi alternatif dalam proses perencanaan strategis di luar analisis SWOT, yaitu pendekatan SOAR (Strengths, opportunities, aspirations, results). Dimanakah letak perbedaannya dengan SWOT?
Biasanya, SWOT diawali dengan melakukan review pernyataan visi dan misi, yang dilanjutkan dengan review terhadap tujuan, sasaran, strategi, rencana, dan kebijakan yang ada. Setelah dilakukan review terhadap situasi saat ini dan masa lalu, mulailah dilakukan analisis SWOT. Melalui analisis ini, data-data dikumpulkan guna menjawab pertanyaan mengenai kondisi organisasi saat ini dan di masa depan (strengths, weaknesses) serta prediksi mengenai pasar/industri yang dimasuki (opportunities, threats). Berdasarkan analisis SWOT, rekomendasi dibuat guna menentukan strategi alternatif yang terbaik bagi organisasi.
Menurut para pencetus SOAR, dalam kaitannya dengan perubahan yang akan dilakukan oleh organisasi, analisis SWOT ini memiliki kekurangan. Dalam proses perencanaan dengan analisis SWOT, perusahaan harus menghabiskan sebagian waktunya guna memikirkan hal-hal positif (strengths, opportunities) dan sebagiannya lagi untuk mengurusi hal-hal negatif (weaknesses, threats). Namun kenyataannya, manusia cenderung lebih suka menonjolkan hal-hal negatif (weaknesses, threats). Padahal, kita cenderung lebih suka melupakan kekurangan dan pengalaman buruk yang terjadi di masa lalu. Kita akan lebih termotivasi manakala menyadari bahwa kelebihan atau kekuatan yang kita miliki dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan organisasi.
(more…)
Categories: Strategic Planning: SOAR